0

[Islamologi] Hanya Predikat, Bukan Identitas

Posted by anisya retno sari on 05:46 in , ,


Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar,
dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
(QS. Al-Imran : 110)

Hadits riwayat al-Hakim, ia menshahihkannya yang disepakati oleh adz-Dzahabi dari Abu Darda ra., ia berkata; aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah berfirman, “Wahai Isa!, sungguh aku akan mengirim
suatu umat setelahmu. Jika mereka mendapatkan perkara yang disukai,
pasti akan memuji kepada Allah. Jika mereka mendapatkan perkara yang tidak disukai,
mereka akan ikhlas menerimanya,
padahal mereka tidak memiliki kepandaian dan ilmu.”
Isa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana itu bisa terjadi?”
Allah berfirman, “Aku memberikan kepada mereka
sebagian dari kepandaian dan ilmu-Ku.”
           
         

Kalian pasti sangat familiar pada ayat Al-Qur’an di atas. Jika tidak lekas buka petunjuk hidupmu. Temukan ayat tersebut, dan bacalah. Ya, secara tersirat ayat tersebut menegaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Paling baik dibanding dengan umat-umat sebelumnya. Sungguh predikat mulia yang Allah SWT sematkan pasa kami.

Hadits dibawahnya pun memberikan predikat mulia pada umat muslim. Muslim ideal senantiasa memuja-muji Sang Pencipta-Nya dan senantiasa sabar dan ikhlas ketika ditimpakan musibah padanya. Disamping, keistimewaannya karena Allah telah memberi sebagian dari kepandaian dan ilmu-Nya.

Baru sadar ya kalau ternyata jadi muslim susah? Lantas sudah layakkah predikat tersebut disandang oleh umat muslim?

Jika berkaca pada generasi terdahulu, saat dimana Rasulullah masih secara nyata menjadi teladan. Yakin. Kalian pasti akan setuju, kaum muslim saat itu memang layak digelari umat terbaik. A-Z peraturan Allah SWT dan Rasulullah diterima tanpa tebang pilih. Sami’na, wa atho’na. Kami mendengar dan kami taat.

Kuceritakan sedikit saat turunnya ayat yang mengharamkan minuman beralkohol. Pada saat itu daratan di Arab dalam keadaan yang dingin saat malam tiba. Minuman beralkohol menjadi penghangat bagi tubuh mereka. Pada suatu ketika turunlah ayat tersebut. Kaum muslim yang mendengar turunnya ayat tersebut, tanpa pikir panjang memecahkan guci-guci hasil fermentasi. Hingga malam itu, dataran Arab terlihat layaknya lautan kelam.

Lalu bagaimana dengan kita? Fakta dilapangan tak menunjukkan predikat tersebut layak disandang. Di negara ini, siapa memang yang banyak dinisbatkan sebagai koruptor? Siapa yang sering mengemis dijalanan? Siapa yang berada dalam garis dibawah kemiskinan? Siapa yang banyak menjadi tersangka narkoba? Siapa yang lantas mencuri sandal saat jum’atan?

Pertanyaan yang sangaaaat panjang, namun hanya butuh satu kata untuk menjawabnya. MUSLIM. Ya iyalah, khan muslim di Indonesia jadi mayoritas. Itu logika kebalik, coba pertanyaan tersebut ditanyakan pada masyarakat Amerika. Jawabannya pasti, orang Amerikanya.

Tapi, lewat pertanyaan itu, tidak bisakah kita berpikir? Apakah seorang muslim pantas menjadi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan? Lantas apakah Allah salah memberikan predikat saat ini? Karena, harus diakui, saat ini kita bukan umat terbaik. Umat muslim Indonesia, bukan umat terbaik.

Yang tua, tersibukkan dengan pencarian nafkah. Demi nafkah, cara apapun berlaku. Mulai dari banting tulang hingga tukang tipu. Dakwah pun akhirnya tertinggal. Seakan lupa, Allah SWT Maha Kaya dan Maha Pemberi.

Yang muda, sibuk sama diri sendiri. Autis. Belum lagi ketika kaula muda dirundung masalah. Tak ada lagi kata sabar dan ikhlas. Yang bergaung hanyalah GALAU nan LABIL. So frustated!!!. Kapan dakwahnya kalau begini?

Kalau sudah begini, mungkin Allah SWT benar-benar salah dan Al-Qur’an sudah tidak relevan lagi untuk zaman toyota. Tapi apakah benar? Pernah suatu ketika aku membeli telur bebek. Tak disangka, telur yang kudapat bukan telur bebek, tapi telur ayam yang dicap layaknya telur bebek. Aah... ini pasti human error. Salah manusia yang mengecapnya.

Berbeda dengan cap yang Allah SWT berikan pada kita. Allah Maha Sempurna Segalanya. Tak akan mungkin pernah salah. Begitu pula dengan Al-Qur’an, Allah-lah yang membuatnya. Tak mungkin lekang oleh zaman. 

Maka tidak ada yang lain yang harus disalahkan selain umat tersebut. Salahkan saja umat muslim itu sendiri. Mereka yang belum teguh memegang Al-qur’an. Aturan-aturan Allah SWT masih dipilih-pilih, yang bermanfaat diambil, yang sekiranya akan mempersulit dipending dulu. Masih ada waktu untuk hidup. Sami’na wa ashoina. Kami mendengar, san kami tak melaksanakannya.

Sudah tidak ada waktu lagi. Kiamat sebentar lagi. Mari layakkan diri menjadi umat terbaik. Menjadi umat yang diperdengarkan dalam Al-Qur’an. Jelas tidak mudah. Tapi para sahabat, thabi’in, thabi’in thabi’ut telah membuktikan prestasi terbaik mereka. Bukankah mereka juga sama seperti kita? Seorang manusia? Sekarang tergantung pilihanmu...

0 Comments

Post a Comment

Copyright © 2009 Catatan Kecil Untuk Dunia All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.