2

[Percikan] Keliru

Posted by anisya retno sari on 15:37 in , , ,


Seorang anak diajak ayahnya membantu di kebun. Sang anak merasa sennnaaaanng sekali lantaran ia akan berhadapan dengan berbagai macam buah dan sayur. “Apa yang akan kita kerjakan di kebun Yah?” tanyanya.

“Bantu Ayah untuk memanen singkong untuk kita jual nak.”


“Singkong? Pohonnya seperti apa?” sang Anak terus menerus bertanya. Maklum, ia masih kecil. Pengetahuannya akan buah dan sayur pun terbatas. Ayahnya pun menjawab dengan penuh kesabaran. Ayah memberitahu ciri pohon singkong itu. Dengan bangga sang anak menggandeng tangan ayahnya. Senyum cerah tak pernah luntur, bahkan matanya pun ikut tersenyum. Lucu sekali.

Sesampainya di kebun sang anak langsung berhamburan menuju pohon singkong. Ia mengingat ciri yang diberitahu oleh ayahnya. Ayah tersenyum ketika melihat anaknya serius mencari pohon yang dimaksud.

“Ini ayah. Ketemu!!!” Girang. Sang anak memanggil ayahnya. “Cepat sini Ayaaahh.” Tak sabar, ia berlari menuju sang Ayah. Menggandengnya tak sabar menuju pohon singkong. Begitu sampai tujuan, si Anak langsung menangis. Tentu saja ayah terkejut, padahal tadi ia sangat senang.

“Ada yang mencuri singkong kita Yah.” Kata-katanya begitu terbata disela-sela isak tangisnya. “Kita nggak jadi panen dong.” Lanjutnya. Akhirnya Ayah menyadari sebab tangis si Anak. Ayah mengeluarkan sekop yang dibawanya. “Cup cup. Jangan nangis nak. Buahnya tidak dicuri siapa-siapa. Karena Allah menyimpan buah singkong tidak di atas, layaknya buah mangga atau jeruk. Allah menyimpan singkong di bawah. Ini coba lihat?”

Sang Ayah menggali tanah di bawah salah satu pohon singkong. Tangis anak berhenti dan berganti dengan rasa penasaran. Matanya mengikuti gerakan sekop. Matanya berbinar-binar ingin mengetahui tempat persembunyian buah singkong.

“Sudah bisa liat buah singkongnya nak?” Si anak menggeleng.

“Yang ada hanya akar Yah. Tak ada buah singkong.”

“Itulah buah singkong, bukan akar. Ini yang akan kita panen.”

            Si anak mengangguk mengerti. Ia sadar akan sesuatu. Pertama, tak selalu buah berada di permukaan, ada juga buah yang tersembunyi di bawah tanah. Lucu. Seperti harta karun. Kedua, ia sadar ia keliru. Menyangka akar padahal buah. Tentu berbeda fungsinya. Buah tak akan pernah menjadi akar. Dan akar tak akan pernah menjadi buah.

2 Comments


Lumayan bagus,.. apakah ini terispirasi saat ngajar di Darangdan,..??


hehe, danke sehr Ayah :)
Ngga, tulisan ini d buat pas lagi pulang ke rumah yah...

Post a Comment

Copyright © 2009 Catatan Kecil Untuk Dunia All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.