0

[Apa Kabar Indonesia] Perempuan dan Jeratan Perbudakan Feminisme

Posted by anisya retno sari on 17:48 in , , ,

Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk jaya asuhan dewata 
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa

Adapun wanita lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu
Namun adakala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita

0

[Catatan Harian] Kinder- und Jugendliteratur




0

[Islamologi] Susunan Puzzle yang Utuh : Keimanan yang Kaffah

Posted by anisya retno sari on 19:22 in , , ,

Dan bahwa Islam adalah kebenaran. Dapat dipastikan adanya.
Tak hanya sebatas dogma. Ini rasional. Dapat dibuktikan.


0

[Artofolio] Puisi Perjuangan

Posted by anisya retno sari on 00:19 in , ,

Sahabat, ada kalanya kita senang
Hingga satu titik, duka menyerang
emosi itu anugerah,
asal kita tahu bagaimana membuatnya indah

sahabat, kita pernah berusaha,
pantang putus asa...
tapi ada saatnya kita tahu,
saat ini tak tepat waktu,
hingga kita pasrah,
walaupun tetap tak menyerah...

sahabat, tetaplah untuk bermimpi,
mimpi yang akan menghangatkan diri,
walau kadangkala kita jatuh,
hingga kita berteriak mengaduh...

sahabat, Allah s.w.t akan bersama orang-orang sabar
juga orang-orang yang tak kenal gentar,
seperti kita, yang menyeru pada kebaikan,
hingga Islam tersampaikan...

0

[SangSingSong] Star5 – Penghambaanku

Posted by anisya retno sari on 00:12 in , , ,

 

0

[Catatan Harian] Mitos sebagai Tanda




Saat saya mengetik Mitos di jawa’’ di laptop. Beberapa detik kemudian, seperti sihir, beribu-ribu hasil muncul dilayar. Lewat mata kuliah semiotik, saya mengetahui bahwa mitos tidak semata-mata sebuah nama dan sekedar kepercayaan. Di lihat dari sisi ilmiah, mitos sangat berkaitan dengan simbol. Sebuah tanda yang timbul akibat kesepakatan yang terjalin ―Aming menyebutnya sebagai konspirasi―. Bahasa merupakan contoh dari eksistensi simbol. Kita sepakat bahwa huruf yang menyerupai segitiga disebut huruf A kapital.


Kembali lagi pada mitos yang saya telusuri. Tersebutlah mitos yang kemudian menarik perhatian dan membuat saya mengingat satu memori. Tertulis di sebuah blog ―kalau tidak salah ingat―, “Jika kita akan menikah. Dan di perjalanan ke tempat resepsi melewati gunung pegat, maka rumah tangganya akan rentan dengan perceraian.”

Ya, mitos ini membangkitkan memori. Dulu sekali, saya sudah pernah mendengar mitos ini. Sekitar dua tahun lalu saat kami sekeluarga dalam perjalanan menuju tempat Ayah dibesarkan. Ayah menuturkan mitos ini. Dengan sangat gamblang. Dengan sangat jelas. Dan beginilah saya, dengan khidmad mendengarkan sejarah keluarga kami.

Dulu sewaktu ayah dalam perjalanan ke rumah Ibu. Hari dimana semuanya akan berbeda mulai hari itu. hari pernikahan mereka. 21 April 1991. Almarhum Mbah Kakung meminta ayah untuk tak melewati jalan yang biasa dilewati untuk ke kota. Padahal jalan tersebut adalah rute tercepat. Jalan memotong untuk mencapai kediaman ibu.

Permintaan tersebut adalah karena sebuah mitos. Ya, mitos yang baru aku ingat setelah tadi sibuk menelusur internet. “Jika kita akan menikah. Dan di perjalanan ke tempat resepsi melewati gunung pegat, maka rumah tangganya akan rentan dengan perceraian.”

Gunung pegat. Sebuah istilah yang dibuat untuk mendeskripsikan perpotongan antara gunung satu dan gunung lainnya. Analoginya adalah gambar dua buah gunung yang gemar sekali dibuat anak Indonesia. Potongan gambar yang tampak mengerucut ke bawah, itulah yang disebut gunung pegat. Letaknya di kawasan Ngadiroyo, kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri.

Dan permasalahannya, jalan yang biasa kami lewati ―yang juga aku lewati saat ayah menceritakan kisah ini― terletak di tengah-tengah gunung pegat. Dan mitos ini yang membuat Mbah Kakung khawatir. Ayah akhirnya memilih menuruti kekhawatiran Mbah dengan mengambil jalan memutar dengan waktu yang lebih lama. Bukan. Bukan karena Ayah percaya akan mitos tersebut. Ayah hanya menenangkan hati Mbah Kakung.

Ya, mitos memang masih erat dalam masyarakat Indonesia. Ia selalu terpelihara lantaran efektif dalam proses pembelajaran. Seringkali mitos bisa dicerna dengan akal, tatkala ia pun lantaran sesuai dengan cara Islam bekerja. Seringkali jua ia menjadi sebuah hal yang tidak make sense, kita hanya dituntut untuk percaya. Tanpa tanya. Tanpa diskusi terkait. Stagnan dengan kata “Udah dari sananya.”

Seorang muslim yang cerdas tak perlu ragu dalam menyikapi sebuah mitos. Ia akan secara sadar. Tak perlu ditakut-takuti ―dalam tanda petik― oleh mitos sehingga ia takkan melakukan hal tersebut. Misalnya, terkait mitos “Kalau mau maghrib ngga boleh keluar, nanti diculik wewe gombel”. Toh, tanpa adanya mitos tersebut seorang muslim memang seharusnya berada di ruangan untuk akhirnya sholat. Syukur-syukur sholat berjama’ah.

Mitos, sekali lagi, tidak boleh hanya dipandang sebagai mitos. Ada simbol dan maksud yang tertanam di dalamnya. Seringnya mitos dapat mengantarkan dan menjerumuskan muslim sedalam-dalamnya pada syirik. Percaya sesuatu selain apa yang telah digariskan Allah SWT. Mitos sekaligus menjadi penanda kebodohan kaum muslim dan jauhnya mereka dengan syariat Allah.

Oleh karena itu, Bagi seorang muslim, cukuplah Allah SWT sebagai tonggak perbuatan apa yang akan dilakukan. Benar dan salahnya juga tak melenceng dari aturan Allah SWT. Selalu menghadirkan Allah di setiap perbuatannya. Seperti ungkapan Ust. Yusuf Manshur : Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.


0

[Review Singkat] Tere Liye - Bidadari-Bidadari Surga

Posted by anisya retno sari on 14:10 in , , ,

 
            

0

[Catatan Harian] Rindu yang Membeku

Posted by anisya retno sari on 14:09 in , , ,

Kebekuan ini kuberi nama rindu. Tegak, kokoh, bagaikan karang yang berada dalam lautan badai.
Aneh, rindu ini tak juga mencair. Lautan membadai saja tak bisa meretakkan kebekuan ini.
Lalu bagaimana harus kucairkan? sementara semakin mengeras saja kerinduan ini.


Semarak ramadhan terasa indah. Hanya satu yang terasa kurang. Keluarga. Ya, awal Ramadhan pertama yang kulalui tanpa keluarga disampingku. Tidak ada Ibu, Ayah dan adik. Sebuah pilihan berat kuambil, menetap di perantauan. mengambil sejenak semester alih tahun demi sekedar memendekkan usia perkuliahan. Dan ini memang sebuah pilihan yang sangat berat.

3

[Islamologi] Silaturahmi dalam Bingkai Reuni. Benarkah?

Posted by anisya retno sari on 21:11 in , , , , ,


Copyright © 2009 Catatan Kecil Untuk Dunia All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.