2

[Percikan] Kebaikan yang Kontradiktif

Posted by anisya retno sari on 15:26 in , , ,

 
Kebaikan yang hakiki dilandaskan atas dua perkara.
Satu : niat yang benar.
Dua : cara yang benar pula.
Dan kebaikanmu akan 100% sempurna.


Disadari atau tidak, anak selalu mengcopy-paste perilaku kedua orang tuanya. Itulah sebabnya menjadi orang tua bukanlah perkara yang mudah ―tapi bukan alasan syar’i untuk tak memiliki buah hati―. Ia harus menjadikan dirinya sendiri tauladan bagi sang buah hati. Jika salah memberi contoh, maka pertanggung jawaban pada Allah SWT sangatlah besar. Karena anak merupakan titipan Allah SWT.

Seringkali dijumpa dalam masyarakat Indonesia kasus kebaikan yang kontradiktif. Kusebut dengan demikian. Kebaikan yang kontradiktif ini kucontohkan sebagaimana orangtua dan buah hatinya. Sebuah contoh, tatkala adzan sholat telah lama berkumandang orangtua menyegerakan sang anak untuk cepat menegakkan sholat. Tapi sang orangtua pun tak menyegerakan dirinya untuk sholat. Inilah yang akhirnya kusebut dengan kebaikan yang kontradiktif.

Ini bisa menjadi sangat berbahaya ketika anak beranjak dewasa. Ketika sang anak mulai mengerti. Ketika kebaikan yang selama ini dilakukan menjadi buih. Sang anak akan sibuk mempermasalahkan orangtuanya dan bisa jadi lupa akan hakikat kebaikan tersebut. Mungkin sampai tak ada keikhlasan dalam hatinya untuk melakukannya. Anak akan sibuk berpikian “Kenapa saya harus begini. Kenapa saya harus begitu. Sedangkan mereka saja tak pernah menyontohkan. Mereka saja terlambat dalam menyontohkan.”

Contoh di atas mirip dengan seorang pengemban dakwah. Layaknya orang tua, pengemban dakwah adalah contoh ditengah-tengah umat.
“Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat
yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu
sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS An-nuur : 34)

Umat muslim sangat mengetahui bahwa Rasulullah telah lama menjadi tauladan. Menjadi contoh atas apa yang seorang muslim harus lakukan dan tak harus dilakukan. Ini semua termaktub dalam perkataan, perbuatan, dan diamnya beliau. Maka sampai sekarang kita masih bisa mengikuti jalan lurus yang beliau tunjukkan.

Tapi manusia tetap manusia. Ia bisa saja lupa, hingga peta menuju syurga tak kunjung dibuka. Sombong dengan insting dan feelingnya sendiri. Hingga tak sadar telah tersesat. Maka sekarang, setelah Islam telah tersebar keseluruh penjuru dunia, tak lantas perjuangan dakwah berakhir. Goal setting Islam tidak serendah itu. Sejatinya pengemban dakwah teramat dibutuhkan. Sepanjang masa, sebagai tour guide bagi muslim yang tersesat dalam lembah kemaksiatan. Seperti cahaya, ia memberikan penerangan. Sang pencerah.

Sayangnya sinar Sang Pencerah kadang tak kunjung menyala terang. Gelap dan pekat masih mendominasi. Muslim yang tersesat pun sampai-sampai tak menyadari kebaikannya. Inilah yang terjadi ketika para pengemban banyak melakukan kebaikan yang kontradiktif. Memberi nasehat, tapi tak memberi contoh konkret. terlebih jikalau mengemban dakwah dalam dunia kampus. Mahasiswa yang katanya kaum intelek. Yang segalanya harus diukur dengan mata. “Konkretnya mana?” jika tak ada sama sekali action maka tanda “X” besar mengacung di depan mata.

Ini menjadi sebuah kecaman untuk kita. Para pengemban dakwah. Yang sinarannya masih redup. Tak terindra oleh mata yang terbiasa gelap. Berbicaraaaaa saja masalah aqidah tiada henti. Yang ini haram, yang ini mubah, yang ini wajib. Yang ini harus dikerjakan, yang ini tak boleh dikerjakan. Tapi tak pernah ada aksi. 

Yang paling krusial, misalkan saja perkara riba. Sudah jelas riba adalah perkara yang diharamkan. Tapi tak sedikit ulama-ulama yang meminta uang insentif hasil ceramah lewat bank-bank konvensional. Lalu bagaimana masyarakat bisa “jijik” dengan aktivitas riba? Jika ajengannya saja tak merasa “jijik”. Allahuakbar!!

Kebaikan yang kontradiktif ini memang hal yang dianggap kecil. Seringkali remeh. Tapi efeknya sangat berbahaya, layaknya bom waktu. Ketidakpercayaan ummat kepada para pengemban dakwah semakin lama semakin padam. Padahal hal pertama untuk memulai perubahan dalam masyarakat adalah dengan memegang kepercayaan ummat. Jika ummat sudah percaya. 100% percaya. Maka perubahan adalah keniscayaan.

Maka dari itu, menjadi seorang pengemban dakwah tidaklah harus sempurna segalanya tentang Islam. Jika kesempurnaan yang menjadi syarat utama, maka tak akan pernah ada pengemban dakwah di dunia ini. karena ilmu Islam sangatlah luas. Ya, yang paling utama adalah bagaimana ia mampu menjadi tauladan. Saling memberi nasehat untuk ummat sekaligus bergerak seiring sejalan dengan ummat. Apapun yang keluar dari mulut pengemban dakwah, maka ia pun menjalankannya. Dan akhirnya masyarakat yang khos akan tercipta. Masyarakat yang mampu menerangi ummat lainnya dengan cahaya Islam dan cahaya itu takkan pernah padam.

2 Comments


Allahu akbar!!

Benar sekali ukhti, sekarang ini banyak orang yang melakukan kebaikan yang kontradiktif, semoga saja kita tidak termasuk diantaranya..
aamiin...


Aamiin...

Yap, selama kebaikan yang kontadiktif ini masih ada dalam aktivitas pengemban dakwah, ini menjadi celah untuk Allah tak mengulurkan pertolongannya..

Post a Comment

Copyright © 2009 Catatan Kecil Untuk Dunia All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.