0

[Percikan] Arun Gandhi dan Kisah Kejujuran

Posted by anisya retno sari on 08:07 in , , , ,
www.thetowerlight.com
Ada sebuah kisah sejarah yang sempat membuat saya terharu. Kisah menarik yang mampu membuat saya merasa ketika berpikir. Kisah ini dituturkan oleh seorang guru besar dunia, cucu dari mendiang Mahatma Gandhi. Dr. Arun Gandhi namanya, yang bersedia berbagi kisah saat Ayahnya mendidik beliau. Dan kisah ini pun dimulai.

Kala itu, usia beliau baru menginjak 16 tahun dan tinggal bersama kedua orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek beliau, Mahatma Gandhi. Mereka sekeluarga tinggal di sebuah perkebunan tebu kira-kira 18 mil jauhnya dari kota Durban, Afrika Selatan.

Dapat dibayangkan seberapa terpencilnya rumah beliau hingga tetanggapun nyaris tak ada. Suatu kebahagiaan bila beliau mempunyai kesempatan untuk singgah di kota. Untuk sekedar mengunjungi rekan atau hanya menonton film di bioskop.

Suatu hari, Sang Ayah meminta beliau demi menemani dan mengantarkannya ke kota. Sang Ayah akan menghadiri sebuah konferensi selama sehari penuh. Dan kebahagiaan tak terkira pun hinggap menghiasi wajahnya. Ibu pun meminta beliau demi membeli sederet daftar perlengkapan rumah tangga. Ayah pun memberikan beberapa tugas kepada beliau, termasuk menservice mobil ke bengkel.


Sang Ayah berpesan untuk menjemput kembali pukul lima. Beliau pun menyanggupi. Ia mengerjakan semua tugas yang diberikan orang tuanya. Dengan penuh tanggung jawab. Dengan rasa ikhlas. Dan tibalah beliau ditugas terakhir, yakni menunggui mobil selesai diservice. Waktu menunggu tersebut beliau habiskan untuk menonton film di bioskop. Rasanya tak apa memang, hanya saja hal ini menjadi salah lantaran beliau terlalu asyik menonton hingga tak tau waktu. Padahal jam kini telah menunjukkan pukul setengah enam. Waktu yang tidak sesuai dengan janjinya.

Maka detik itu, beliau langsung melompat ke bengkel dan menjemput ayahnya. Hanya saja ia sudah sangat terlambat. Ayahnya telah menunggu selama satu jam. Tak salah jika akhirnya Sang Ayah mempertanyakan keterlambatannya dengan nada khawatir.

Beliau amat bersalah dan malu demi mengatakan sebuah kejujuran. Ia takut untuk mengakui kekhilafannya yang ingkar pada janji hanya karena keasyikan menonton di bioskop. Maka yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan. Beliau mengatakan bahwa, mobil Sang Ayah memang memakan waktu lama untuk diperbaiki. Konsekuensinya, ia pun harus menunggu lama.

Tapi Sang ayah tau bahwa anaknya tengah berbohong, pasalnya ia sudah terlebih dahulu menelepon bengkel mobil. Tak ada kata-kata kejam nan memojokkan yang keluar dari mulut Ayah beliau. Ayah menundukkan wajahnya. Sedih. Ia menatap anaknya lama, sebelum berkata, “Arun, sepertinya ada sesuatu yang salah dari diri ayah dalam mendidik dan membesarkanmu nak hingga kamu berani berkata jujur pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah selama ini, biarlah ayah pulang dengan berjalan kaki sembari merenungkan di mana letak kesalahannya.

Ayah memulai perjalanan pulangnya dengan berjalan kaki. Padahal matahari sudah memasuki peraduannya. Padahal kondisi jalanan tak lagi mulus. Anak mana yang sampai hati melihat Ayahnya dalam kondisi demikian. Namun, meskipun beliau telah menawari ayahnya berkali-kali untuk masuk mobil, Sang Ayah tetap berkeras untuk berjalan kaki. Beliau menatap nanar punggung sang Ayah sambil tetap mengendari mobil secara pelan di belakang Ayahnya. Dan air mata pun menetes. Beliau amat menyesal atas kebohongan bodoh yang telah ia lakukan hingga membuat derita pada diri Ayahnya.

Sejak saat itu, beliau selalu berkata jujur seumur hidupnya kepada siapapun. Mungkin, seandainya dahulu Sang Ayah menghukum beliau atas sebuah kebohongan, atau menghujamkan kata-kata menonjok seperti yang biasa orang tua lainnya lakukan, beliau akan sakit dan menderita karenanya. Tapi belum tentu ia akan begitu menyesal hingga ia tak mau lagi berkata bohong dalam hidupnya.

Namun, dengan satu tindakan mengevaluasi diri yang dilakukan oleh Sang Ayah, walaupun antimainstream. Walaupun tanpa amarah ataupun kekerasan. Arun Gandhi merasakan kekuatan yang luar biasa dalam merubah hidupnya. Hal ini tentu sangat positif dibandingkan kebanyakan.

Saya tahu bahwa Arun Gandhi sangat bangga memiliki Sang Ayah yang begitu sangat bijaksana. Tapi saya lebih yakin bahwa orang tua beliau memiliki kebanggaan luar biasa saat anaknya mampu menjadi seorang anak yang hebat. Pada saat itulah orang tua beliau telah berhasil mendidik seorang Arun Gandhi.




0 Comments

Post a Comment

Copyright © 2009 Catatan Kecil Untuk Dunia All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.